Kelompok 4 :
1. Putri Rindu Ramadhan (1303625074)
2. Rasyid Ibnu Ramadhan (1303625060)
3. Succi Dwiriyanti (1303625022)
HEWAN
JERAPAH
1. Nama Umum (Lokal) dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Jerapah
Nama Ilmiah: Giraffa camelopardalis
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkatan Taksonomi
Nama Taksonomi
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Mamalia
Ordo
Artiodactyla
Famili
Giraffidae
Genus
Giraffa
Spesies
G. Camelopardalis
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati
 Tinggi Badan: Sangat tinggi, jantan mencapai 4,8 - 5,5 meter.
 Leher dan Kaki: Memiliki leher dan kaki depan yang sangat panjang. Kaki depan terlihat lebih
panjang daripada kaki belakang.
 Pola Kulit: Ditutupi pola bercak-bercak (totol-totol) berwarna cokelat kemerahan atau cokelat tua
yang dipisahkan oleh garis-garis putih atau krem. Pola ini unik untuk setiap individu.
 Osikon: Terdapat sepasang tonjolan tulang pendek yang menyerupai tanduk kecil di atas kepala,
ditutupi kulit dan rambut, disebut osikon.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya
 Habitat alami: Sabana, padang rumput, dan hutan terbuka di Afrika.
 Persebaran: Mencakup area yang luas di benua Afrika, mulai dari Chad hingga Afrika Selatan
5 . Catatan Hasil Pengamatan, Seperti Perilaku, Kondisi Lingkungan, atau Hal Menarik Lainnya
 Perilaku Makan: Termasuk herbivora pemakan daun (folivora), makanan utamanya adalah daun
muda, terutama dari pohon akasia. Lehernya yang panjang memungkinkannya mencapai daun di
pucuk pohon yang tidak bisa dijangkau oleh herbivora lain.
 Perilaku Sosial: Jerapah umumnya hidup dalam kelompok sosial longgar, sering disebut kawanan,
yang terdiri dari betina dan anak-anak, atau kelompok jantan muda.
 Kondisi lingkungan: Jerapah ini tinggal di tempat wisata yakni kebun binatang, kandangnya luas serta
terdapat rumah yang cukup memadai untuk, serta lingkungan kandang pun bersih.
6 . Manfaat dan Peranan Ekologis
 Peran Ekologis: Jerapah adalah herbivora peramban (pemakan daun) kunci dalam ekosistem sabana.
Dengan memakan daun di ketinggian, mereka membuka ceruk makanan yang unik dan membentuk
struktur kanopi pohon.
 Penyebaran Benih: Meskipun tidak seefektif hewan lain, konsumsi buah atau polong oleh jerapah
dapat membantu penyebaran benih di habitat mereka.
 Nilai Ekonomi/Pariwisata: Jerapah merupakan spesies ikonik yang sangat menarik bagi wisatawan
terutama anak-anak sebagai media pembelajaran dan pengenalan terhadap hewan, memberikan
peluang kerja/usaha dan pendapatan bagi masyarakat sekitar.
7 . Ciri Khas dari Spesies Tersebut
 Hewan Darat Tertinggi: Merupakan hewan darat tertinggi yang masih hidup, berkat leher dan kakinya
yang ekstrem.
 Leher Super Panjang: Leher yang sangat jenjang, namun hanya terdiri dari tujuh ruas tulang belakang
(sama dengan mamalia lain, termasuk manusia), tetapi setiap ruasnya sangat panjang.
 Pola Unik: Pola bercak pada tubuhnya berfungsi sebagai kamuflase di habitat sabana.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Jerapah (Giraffa camelopardalis) adalah mamalia herbivora berkuku genap, dan merupakan spesies
hewan darat tertinggi yang hidup di Bumi. Hewan ini terkenal karena leher dan kaki yang sangat
panjang, serta pola totol-totol unik pada kulitnya. Jerapah dapat tumbuh setinggi 4,8 hingga 5,5 meter
(jantan) dengan berat mencapai 1.360 kg.
9. Interaksi yang Teramati
 Interaksi makan di mana jerapah mengonsumsi daun (herbivora), yang dapat memengaruhi
pertumbuhan dan persebaran spesies pohon tertentu (terutama akasia) di sabana.
GAJAH SUMATERA
1. Nama Umum (Lokal) dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Gajah Sumatera, Gajah Asia Sumatera.
Nama Ilmiah: Elephas maximus sumatranus.
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkatan Taksonomi
Nama Taksonomi
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Mamalia
Ordo
Proboscidea
Famili
Elephantidae
Genus
Elephas
Spesies
E. Maximus
Subspesies
E. Maximus Sumatranus
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
 Ukuran Tubuh: Relatif lebih kecil dibandingkan Gajah India atau Gajah Afrika. Tinggi bahu jantan
dewasa sekitar 2 hingga 3,2 meter.
 Warna Kulit: Warna kulit cenderung abu-abu gelap dengan sedikit bercak kemerahan atau keputihan
pada bagian telinga, dahi, atau perut.
 Gading: Hanya sebagian kecil gajah jantan yang memiliki gading panjang, sementara betina
umumnya tidak memiliki gading atau hanya memiliki gading pendek (gading kecil).
 Telinga: Telinganya relatif besar, namun lebih kecil dibandingkan Gajah Afrika.
 Belalai: Memiliki belalai panjang yang berotot dengan satu proyeksi seperti jari di ujungnya,
digunakan untuk bernapas, minum, makan, dan berinteraksi
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya
 Habitat Alami: Beragam tipe hutan, termasuk hutan dataran rendah, hutan hujan tropis dataran tinggi,
hutan sekunder, dan daerah rawa di pulau Sumatera, Indonesia.
 Persebaran: Hanya ditemukan di provinsi-provinsi di Sumatera, seperti Riau, Lampung, Aceh,
Bengkulu, dan Sumatera Selatan, namun populasinya terfragmentasi.
5. Catatan Hasil Pengamatan, Seperti Perilaku, Kondisi Lingkungan, atau Hal Menarik Lainnya
 Perilaku Sosial: Hidup dalam kelompok sosial (kawanan) yang dipimpin oleh betina tertua (matriark).
Kawanan ini terdiri dari betina dewasa dan anak-anak, sementara jantan dewasa sering hidup soliter
atau dalam kelompok jantan.
 Pola Makan: Termasuk herbivora yang memakan berbagai jenis tumbuhan, rumput, buah-buahan,
kulit pohon, dan akar. Mereka menghabiskan sebagian besar waktu untuk makan.
 Kondisi lingkungan: Gajah Sumatera ini tinggal di tempat wisata yakni kebun binatang, kandangnya
luas serta terdapat rumah yang cukup memadai, serta lingkungan kandang cukup bersih.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
 Arsitek Ekosistem (Ecosystem Engineers): Gajah adalah spesies kunci dan pembuat habitat. Dengan
cara merusak semak dan pohon kecil, mereka menciptakan ruang terbuka yang mendukung
pertumbuhan rumput dan menyediakan akses air bagi hewan lain.
 Penyebar Biji (Seed Disperser): Mereka mengonsumsi buah-buahan besar dan biji, kemudian
membuang biji tersebut bersama kotoran di tempat yang jauh. Biji yang melewati saluran pencernaan
gajah sering memiliki daya kecambah yang lebih baik.
 Pembersih Jalan: Di hutan yang padat, pergerakan gajah menciptakan jalur satwa yang memudahkan
pergerakan satwa lain.
 Nilai Ekonomi/Pariwisata: Jerapah merupakan spesies ikonik yang sangat menarik bagi wisatawan
terutama anak-anak sebagai media pembelajaran dan pengenalan terhadap hewan, memberikan
peluang kerja/usaha dan pendapatan bagi masyarakat sekitar.
7. Ciri Khas dari Spesies tersebut
 Postur Lebih Kecil: Merupakan subspesies Gajah Asia dengan ukuran terkecil.
 Endemik: Hewan ini endemik (hanya ditemukan secara alami) di pulau Sumatera, Indonesia.
 Kuku: Memiliki lima kuku pada kaki depan dan empat kuku pada kaki belakang.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) adalah subspesies dari Gajah Asia (Elephas
maximus). Hewan ini merupakan mamalia darat terbesar di Indonesia dan termasuk dalam kelompok
herbivora sejati. Dikenal memiliki sifat yang cerdas dan hidup dalam kelompok sosial yang teratur.
9. Interaksi yang Teramati
 Interaksi Intraspesifik: Melibatkan komunikasi kompleks melalui suara (termasuk infrasound),
sentuhan belalai, dan postur tubuh untuk mempertahankan ikatan keluarga dan hierarki.
 Herbivora-Tumbuhan: Perannya sebagai megaherbivora menyebabkan dampak besar pada vegetasi;
mereka merusak pohon, membuka jalur, dan memakan anakan, yang memengaruhi struktur hutan.
MONYET BOTI
1. Nama Umum (Lokal) dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Monyet Boti
Nama Ilmiah: Macaca Tonkeana
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkatan Taksonomi
Nama Taksonomi
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Mamalia
Ordo
Primata
Famili
Cercopithecidae
Genus
Macaca
Spesies
M. Tokeana
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
 Warna Bulu: Warna dasar tubuh didominasi hitam mengilap hingga cokelat tua.
 Wajah dan Bokong: Area wajah (pipi) dan bokong berwarna cenderung cokelat muda/ringan.
 Jambul: Memiliki sedikit jambul di bagian atas kepala (terkadang disebut Monyet Hitam Jambul).
 Anggota Gerak: Memiliki tungkai yang kuat, moncong yang cukup panjang, dan ekor yang pendek
dan tidak mencolok (panjang ekor hanya sekitar 3-7 cm).
 Ukuran: Panjang badan berkisar 50-70 cm, dengan berat tubuh sekitar 7-15 kg.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya
 Habitat Alami: Hutan hujan tropis, mulai dari hutan primer dataran rendah hingga hutan sekunder dan
hutan pegunungan hingga ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut.
 Persebaran: Sulawesi Tengah dan Kepulauan Togian, Indonesia.
5. Catatan Hasil Pengamatan, Seperti Perilaku, Kondisi Lingkungan, atau Hal Menarik Lainnya
 Perilaku: Monyet Boti adalah satwa arboreal, yang berarti sebagian besar waktunya dihabiskan di atas
pohon. Mereka hidup dalam kelompok sosial (koloni).
 Makanan: Termasuk omnivora dengan makanan utama berupa buah-buahan, tunas, daun, bunga, biji,
dan serangga.
 Perilaku Sosial: Mereka melakukan social grooming (saling membersihkan diri) sebagai cara untuk
mempererat hubungan di dalam kelompok.
 Status Konservasi: Statusnya dikategorikan Rentan (Vulnerable/VU) oleh IUCN (Uni Internasional
untuk Konservasi Alam) karena ancaman deforestasi, perladangan berpindah, dan perburuan sebagai
hama pertanian.
 Kondisi lingkungan: Monyet Boti ini tinggal di tempat wisata yakni kebun binatang, kandangnya luas
serta terdapat rumah yang cukup memadai, serta lingkungan kandang cukup bersih.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
 Penyebar Biji (Seed Disperser): Peran ekologis paling penting adalah sebagai penyebar biji (atau
penyemai benih). Dengan mengonsumsi buah-buahan dan biji, kemudian membuangnya di tempat
yang berbeda, mereka membantu regenerasi hutan tropis.
 Pengendali Populasi Serangga: Perannya sebagai omnivora yang juga memakan serangga dapat
membantu mengendalikan populasi beberapa jenis serangga di habitatnya.
 Indikator Kesehatan Hutan: Keberadaan primata endemik seperti Monyet Boti sering dijadikan
indikator kesehatan suatu ekosistem hutan.
7. Ciri Khas dari Spesies Tersebut
 Endemik Sulawesi: Hanya ditemukan di Sulawesi Tengah dan Kepulauan Togian, menjadikannya
spesies yang unik di Indonesia.
 Warna Tergelap: Dibandingkan delapan jenis makaka lain yang ada di Sulawesi, Macaca tonkeana
memiliki warna rambut yang paling gelap dengan variasi warna paling sedikit.
 Sifat Sosial dan Sensitif: Dikenal memiliki ikatan sosial yang kuat dalam koloninya dan sering
digambarkan sebagai hewan yang pemalu dan sensitif terhadap gangguan.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Monyet Boti (Macaca tonkeana) adalah spesies primata dari kelompok Makaka yang merupakan
hewan endemik Indonesia, tepatnya di Sulawesi. Hewan ini terkenal dengan sifatnya yang pemalu dan
relatif sensitif. Mereka termasuk hewan yang cerdas dan hidup secara sosial.
9. Interaksi yang Teramati
 Interaksi Intraspesifik (dalam kelompok): Sering melakukan grooming untuk menjaga ikatan sosial
dan hierarki kelompok. Hidup dalam kelompok memberikan perlindungan dari predator.
RUSA BAWEAN
1. Nama Umum (Lokal) dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Rusa Bawean.
Nama Ilmiah: Axis kuhlii.
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkatan Taksonomi
Nama Taksonomi
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Mamalia
Ordo
Artiodactyla
Famili
Cervidae
Genus
Axis
Spesies
A. Kuhlii
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
 Ukuran Tubuh: Berukuran relatif kecil dibandingkan spesies rusa lainnya, dengan tinggi bahu hanya
sekitar 60 hingga 70 cm.
 Warna Bulu: Bulunya berwarna cokelat polos dan seragam. Anak rusa (fawn) memiliki bintik-bintik
putih yang akan hilang seiring bertambahnya usia.
 Tanduk (Rusa Jantan): Rusa jantan memiliki tanduk bercabang tiga yang relatif pendek. Tanduk ini
rontok setiap tahun.
 Ekor: Ekornya pendek.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya
Habitat Alami: Hutan dataran rendah, hutan sekunder, semak belukar, dan kawasan hutan jati di Pulau
Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
5. Catatan Hasil Pengamatan, Seperti Perilaku, Kondisi Lingkungan, atau Hal Menarik Lainnya
 Perilaku: Hewan ini cenderung soliter atau hidup dalam kelompok kecil (ibu dan anak). Mereka
sangat pemalu dan jarang terlihat di siang hari.
 Makanan: Termasuk herbivora peramban (pemakan daun/ranting) yang makan daun, pucuk, rumput,
dan buah-buahan yang jatuh.
 Waktu Aktif: Aktivitas puncak adalah saat senja hingga fajar (nokturnal).
 Kondisi lingkungan: Rusa Bawean ini tinggal di tempat wisata yakni kebun binatang, kandangnya
luas serta terdapat rumah yang cukup memadai, serta lingkungan kandang cukup bersih.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
 Peran Ekologis: Rusa Bawean berperan sebagai herbivora peramban yang penting untuk menjaga
keseimbangan vegetasi di lapisan bawah hutan, mencegah dominasi satu jenis tumbuhan.
 Sumber Makanan Predator: Menjadi sumber makanan penting bagi predator puncak di Bawean
(meskipun predator alami besar kini terbatas), menjaga rantai makanan lokal.
 Simbol Konservasi: Statusnya yang Kritis dan endemik menjadikan Rusa Bawean sebagai bentuk
upaya konservasi keanekaragaman hayati di Pulau Bawean.
7. Ciri Khas dari Spesies Tersebut
 Endemik Bawean: Merupakan mamalia endemik yang hanya dapat ditemukan di Pulau Bawean, Jawa
Timur, Indonesia.
 Sifat Nokturnal: Rusa Bawean sebagian besar aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal), dan
bersembunyi di semak-semak lebat pada siang hari, menjadikannya sulit diamati.
 Ukuran Kecil: Postur tubuhnya yang kecil dan ramping menjadi ciri pembeda utama dari rusa besar
lainnya.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Rusa Bawean (Axis kuhlii) adalah spesies rusa kecil yang merupakan hewan endemik Indonesia.
Hewan ini termasuk herbivora yang hidup di hutan. Populasinya sangat kecil dan terbatas,
menjadikannya salah satu mamalia paling langka di Asia.
9. Interaksi yang Teramati
 Interaksi Intraspesifik: Rusa jantan dewasa bersifat teritorial, menggunakan tanduk untuk
berkompetisi demi mendapatkan betina selama musim kawin.
 Herbivora-Tumbuhan: Sebagai pemakan daun dan pucuk, mereka berinteraksi dengan vegetasi hutan,
memengaruhi regenerasi dan struktur lapisan bawah hutan.
KASUARI GELAMBIR DUA
1. Nama Umum (Lokal) dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Kasuari Gelambir Dua, Kasuari Leher Kuning, atau Kasuari Biasa.
Nama Ilmiah: Casuarius casuarius.
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkatan Taksonomi
Nama Taksonomi
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Aves
Ordo
Casuariiformes
Famili
Casuariidae
Genus
Casuarius
Spesies
C. Casuarius
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
 Ukuran Tubuh: Sangat besar, dapat mencapai tinggi 1,5 hingga 1,8 meter dan berat hingga 60 kg.
Betina cenderung lebih besar dan lebih cerah warnanya daripada jantan.
 Bulu: Bulu tubuh berwarna hitam legam dan tampak seperti rambut atau bulu kasar.
 Kepala dan Leher: Kepala kecil dengan kulit berwarna cerah, terutama biru dan merah cerah.
 Gelambir: Ciri khas utama adalah adanya dua gelambir (struktur seperti kantung kulit yang
menggantung) berwarna merah dan/atau kuning cerah pada lehernya.
 Kasuari/Kaskus: Terdapat tulang keras yang disebut kasuari (casque) atau kaskus di atas kepala,
seperti helm atau tanduk.
 Kaki: Kaki sangat kuat dan tebal, dengan tiga jari kaki ke depan. Jari kaki bagian dalam memiliki
cakar panjang, tajam, dan mematikan (disebut daggers) yang dapat digunakan untuk pertahanan diri.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya
 Habitat Alami: Hutan hujan tropis dataran rendah, hutan rawa, hingga pegunungan.
 Persebaran: Papua (Indonesia dan Papua Nugini) dan Australia Timur Laut (Semenanjung Cape York).
Di Indonesia, terutama di kawasan hutan hujan di Pulau Papua.
5. Catatan Hasil Pengamatan, Seperti Perilaku, Kondisi Lingkungan, atau Hal Menarik Lainnya
 Perilaku: Kasuari bersifat soliter (hidup sendiri) dan sangat teritorial. Mereka diketahui
mempertahankan wilayahnya dengan agresif.
 Makanan: Termasuk omnivora, makanan utamanya adalah buah-buahan yang jatuh ke tanah, jamur,
serangga, dan hewan kecil.
 Pengasuhan: Jantan yang bertanggung jawab penuh dalam mengerami telur dan mengasuh anak.
 Kondisi lingkungan: Kasuari Gelambir Dua ini tinggal di tempat wisata yakni kebun binatang,
kandangnya luas serta terdapat rumah yang cukup memadai, serta lingkungan kandang cukup bersih.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
 Penyebar Biji (Seed Disperser) Kunci: Kasuari Gelambir Dua adalah penyebar biji megafauna
terpenting di hutan hujan tempat mereka tinggal. Karena ukurannya besar, mereka mampu menelan
dan menyebarkan biji dari buah-buahan yang terlalu besar dan beracun bagi hewan lain.
 Regenerasi Hutan: Peran ini sangat penting untuk regenerasi dan keanekaragaman jenis pohon,
menjadikan Kasuari sebagai spesies kunci (atau keystone species) yang memengaruhi komposisi
hutan.
 Pengurai Tanah: Melalui kebiasaan makan dan menggaruk tanah, mereka membantu pergerakan
material organik dan proses dekomposisi.
7. Ciri Khas dari Spesies Tersebut
 Kasuari/Kaskus: Fungsi kasuari diyakini sebagai perlindungan saat berlari melewati semak belukar,
sebagai alat komunikasi, atau untuk membantu resonansi suara.
 Cakar Mematikan: Memiliki cakar seperti belati yang membuatnya menjadi salah satu burung paling
berbahaya di dunia jika merasa terancam.
 Warna Mencolok: Perpaduan bulu hitam dengan kulit kepala dan gelambir yang berwarna biru,
merah, dan kuning sangat mencolok, menunjukkan peringatan visual.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Kasuari Gelambir Dua (Casuarius casuarius) adalah spesies burung besar, tidak dapat terbang
(flightless), dan merupakan salah satu burung terbesar di dunia. Burung ini termasuk omnivora dan
terkenal karena penampilannya yang mencolok dan sifatnya yang teritorial. Hewan ini sering disebut
juga Kasuari Selatan.
9. Interaksi yang Teramati
 Interaksi Intraspesifik: Jarang berinteraksi kecuali saat musim kawin atau jantan mengasuh anak. Jika
bertemu, mereka dapat menunjukkan agresi teritorial.
 Interaksi Herbivora-Tumbuhan (Simbiosis): Memiliki interaksi simbiosis yang vital dengan hutan
hujan.
DARA MAHKOTA SCHEEPMAKERI
1. Nama Umum (Lokal) dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Burung Dara Mahkota Scheepmakeri.
Nama Ilmiah: Goura scheepmakeri.
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkatan Taksonomi
Nama Taksonomi
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Aves
Ordo
Columbiformes
Famili
Columbidae
Genus
Goura
Spesies
G. Scheepmakeri
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
 Ukuran Tubuh: Merupakan burung dara/merpati terbesar, panjang tubuh dapat mencapai 70 hingga 80
cm dan berat mencapai 2,5 kg.
 Warna Bulu: Warna utama tubuh adalah biru keabu-abuan yang gelap.
 Mahkota: Ciri paling mencolok adalah jambul (mahkota) yang besar dan halus di atas kepala, tampak
seperti renda atau kipas, berwarna biru cerah dengan ujung putih.
 Dada: Memiliki bercak atau warna merah marun yang khas pada bagian dada.
 Sayap: Terdapat bercak putih dan/atau abu-abu yang kontras pada sayap.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya
 Habitat Alami: Hutan dataran rendah, hutan rawa, hutan sagu, dan hutan sekunder di daerah tropis.
 Persebaran Alami: Endemik di pulau Papua (Indonesia dan Papua Nugini bagian selatan).
5. Catatan Hasil Pengamatan, Seperti Perilaku, Kondisi Lingkungan, atau Hal Menarik Lainnya
 Perilaku: Burung ini diurnal (aktif di siang hari) dan cenderung hidup berpasangan atau dalam
kelompok kecil. Mereka berjalan di dasar hutan untuk mencari makan.
 Makanan: Herbivora, makanan utamanya terdiri dari buah-buahan yang jatuh, biji-bijian, dan
terkadang serangga.
 Suara: Memiliki suara panggilan yang khas dan dalam, mirip suara "boom" atau "hum", jauh berbeda
dari suara merpati biasa.
 Kondisi lingkungan: Dara Mahkota Scheepmakeri ini tinggal di tempat wisata yakni kebun binatang,
kandangnya luas serta terdapat rumah yang cukup memadai, serta lingkungan kandang cukup bersih.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
 Penyebar Biji (Seed Disperser): Peran ekologis paling penting adalah sebagai penyebar biji yang
efektif. Karena ukurannya besar, mereka dapat menelan dan menyebarkan biji buah-buahan besar
yang tidak dapat dicerna oleh burung lain, membantu regenerasi hutan.
 Indikator Ekosistem: Keberadaan spesies besar dan sensitif ini dapat menjadi indikator kesehatan
hutan dataran rendah di Papua.
7. Ciri Khas dari Spesies Tersebut
 Mahkota Renda: Jambulnya adalah yang paling mencolok di antara semua spesies Columbidae,
menjadikannya mudah dikenali.
 Merpati Terbesar: Bersama dengan kerabat Goura lainnya, ia adalah anggota keluarga merpati/dara
yang paling besar dan hidup di tanah.
 Sifat Terestrial: Meskipun bisa terbang jarak pendek, burung ini menghabiskan sebagian besar
waktunya di dasar hutan untuk mencari makan.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Burung Dara Mahkota Scheepmakeri (Goura scheepmakeri) adalah salah satu dari empat spesies
burung dalam genus Mambruk (Goura), yang merupakan kelompok merpati atau dara terbesar di
dunia. Burung ini adalah herbivora yang hidup di dasar hutan dan sangat dihargai karena
penampilannya yang megah.
9. Interaksi yang Teramati
 Interaksi Intraspesifik: Terlihat berpasangan atau berkelompok saat mencari makan; interaksi teritorial
antar jantan terjadi, terutama melalui panggilan suara.
ULAR SANCA SAWAH ALBINO
1. Nama Umum (Lokal) dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Ular Sanca Sawah. Jika Albino, disebut Ular Sanca Sawah Albino.
Nama Ilmiah: Python reticulatus
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkatan Taksonomi
Nama Taksonomi
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Reptilia
Ordo
Squamata
Famili
Pythonidae
Genus
Python
Spesies
P. Reticulatus
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
 Ukuran: Dapat tumbuh hingga mencapai 6 - 8 meter atau lebih (di alam liar).
 Bentuk Tubuh: Berotot dan padat, tetapi relatif ramping dibandingkan dengan beberapa jenis piton
lainnya.
 Pola Kulit (Albino): Pola jaring-jaring menjadi kuning cerah, emas, atau oranye dengan latar belakang
putih.
 Kepala: Bentuk kepala memanjang dengan moncong agak datar.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek
 Habitat Alami: Hutan hujan tropis, hutan sekunder, padang rumput, dekat sungai dan rawa, serta
sering ditemukan di area pertanian (sawah) di dekat permukiman manusia.
 Persebaran: Asia Tenggara, termasuk Indonesia (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa), Filipina,
Thailand, Malaysia, dan Vietnam.
5. Catatan Hasil Pengamatan, Seperti Perilaku, Kondisi Lingkungan, atau Hal Menarik Lainnya
 Perilaku: Ular Sanca Sawah adalah nokturnal (aktif di malam hari). Mereka adalah perenang yang
sangat baik dan sering ditemukan di dekat air. Mereka juga mampu memanjat pohon.
 Makanan: Karnivora, memangsa mamalia kecil dan sedang (tikus, tupai, musang, babi, rusa) dan
burung. Mangsa besar dapat ditelan berkat rahangnya yang sangat fleksibel.
 Kondisi Albino: Di alam liar, Albino sangat jarang bertahan hidup hingga dewasa karena warna
cerahnya membuat mereka mudah terlihat oleh predator dan mangsa.
 Kondisi lingkungan: Sanca Sawah Albino ini tinggal di tempat wisata yakni kebun binatang,
kandangnya luas serta terdapat rumah yang cukup memadai, serta lingkungan kandang cukup bersih.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
 Pengendali Hama: Peran ekologis paling penting adalah sebagai pengendali populasi hewan pengerat
(tikus dan sejenisnya), menjaga keseimbangan ekosistem pertanian dan hutan.
 Spesies Kunci: Sebagai predator besar, mereka membantu mengatur populasi mangsa, sehingga secara
tidak langsung memengaruhi vegetasi hutan.
 Nilai Ekonomi: Kulitnya sangat bernilai tinggi dalam industri fashion kulit, meskipun ini sering
berkontribusi pada penangkapan berlebihan.
7. Ciri Khas dari Spesies Tersebut
 Ular Terpanjang: Diakui sebagai ular terpanjang di dunia, meskipun bukan yang terberat.
 Motif Retikulata: Memiliki salah satu pola kulit paling rumit dan indah di antara semua ular, mirip
pola jaring.
 Albino Populer: Sanca Sawah Albino sangat populer dalam perdagangan hewan peliharaan karena
warnanya yang mencolok dan indah.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Ular Sanca Sawah (Python reticulatus) adalah spesies ular terpanjang di dunia dan termasuk
ular non-bisa (tidak berbisa) dari famili Pythonidae. Ular ini adalah karnivora yang membunuh
mangsanya dengan cara melilit (konstriksi).
9. Interaksi yang Teramati
 Interaksi Intraspesifik: Jantan bersaing untuk betina saat musim kawin; interaksi sosial lain minimal
karena sifatnya yang soliter.
IGUANA HIJAU
1. Nama Umum (Lokal) dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Iguana Hijau (sering disingkat Iguana), Iguana Amerika.
Nama Ilmiah: Iguana iguana
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkatan Taksonomi
Nama Taksonomi
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Reptilia
Ordo
Squamata
Famili
Iguanidae
Genus
Iguana
Spesies
I. Iguana
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
 Warna Tubuh: Umumnya berwarna hijau cerah saat muda, namun dapat berubah menjadi hijau kusam,
abu-abu, atau bahkan oranye/biru (tergantung lokasi dan kondisi) saat dewasa. Jantan yang sedang
kawin sering menunjukkan warna yang lebih cerah, termasuk oranye.
 Ukuran: Dapat mencapai panjang total (termasuk ekor) hingga 1,5 hingga 2 meter dan berat mencapai
5 kg.
 Jambul (Crest): Memiliki barisan duri/sisik yang memanjang dari tengkuk hingga pangkal ekor,
disebut jambul dorsal. Jambul ini lebih menonjol pada jantan.
 Dinding Leher (Dewlap): Terdapat lipatan kulit besar di bawah dagu yang disebut dewlap atau
kantung tenggorokan. Digunakan untuk menarik perhatian lawan jenis dan mengatur suhu tubuh.
 Mata Ketiga (Parietal Eye): Memiliki mata sensitif cahaya di atas kepala yang hanya mendeteksi
perubahan terang dan gelap, membantu mendeteksi predator dari atas.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya
 Habitat Alami: Hutan hujan tropis, hutan tepi sungai, dan daerah dengan banyak pepohonan. Mereka
menghabiskan sebagian besar waktu di kanopi pohon.
 Persebaran Alami: Mulai dari Meksiko selatan hingga Brasil selatan, Paraguay, dan di banyak pulau di
Karibia.
5. Catatan Hasil Pengamatan, Seperti Perilaku, Kondisi Lingkungan, atau Hal Menarik Lainnya
 Perilaku: Iguana adalah hewan diurnal (aktif di siang hari). Mereka berjemur di bawah sinar matahari
untuk mengatur suhu tubuh, karena mereka adalah hewan berdarah dingin (ektoterm).
 Perilaku Sosial: Jantan bersifat teritorial, sering menggunakan anggukan kepala ( head-bobbing) dan
mengembangkan dewlap untuk berkomunikasi dan menunjukkan dominasi.
 Makanan: Meskipun kadang-kadang anakan makan serangga, Iguana Hijau dewasa adalah herbivora
murni yang penting.
 Kondisi lingkungan: Iguana Hijau ini tinggal di tempat wisata yakni kebun binatang, kandangnya luas
serta terdapat rumah yang cukup memadai, serta lingkungan kandang cukup bersih.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
 Penyebar Biji (Seed Disperser): Peran ekologis utama adalah sebagai penyebar biji yang penting.
Mereka menelan buah-buahan dan biji yang melewati sistem pencernaannya, kemudian dibuang di
lokasi yang berbeda, membantu regenerasi hutan.
 Pengendali Vegetasi: Konsumsi daun dan tunas oleh Iguana membantu mengendalikan beberapa jenis
tumbuhan dan membentuk struktur kanopi.
7. Ciri Khas dari Spesies Tersebut
 Arboreal dan Berenang: Sangat ahli memanjat pohon dan merupakan perenang yang hebat; mereka
akan melompat dari pohon ke air untuk melarikan diri dari predator.
 Perubahan Warna: Mampu sedikit mengubah intensitas warna tubuh untuk mengatur suhu tubuh
(lebih gelap saat kedinginan, lebih terang saat kepanasan).
 Herbivora Sejati: Tidak seperti banyak kadal lain, Iguana Hijau dewasa adalah herbivora sejati,
memakan daun, sayur, bunga, dan buah-buahan.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Iguana Hijau (Iguana iguana) adalah spesies kadal arboreal (hidup di pohon) besar yang berasal dari
Amerika Tengah, Amerika Selatan, dan Karibia. Hewan ini termasuk herbivora dan dikenal sebagai
salah satu kadal peliharaan paling populer di dunia.
9. Interaksi yang Teramati
 Interaksi Intraspesifik: Teritorial jantan ditandai dengan anggukan kepala yang agresif, sering kali
melibatkan pertarungan fisik (jarang) atau saling mengejar.
 Interaksi Herbivora-Tumbuhan: Sebagai pemakan daun dan buah di ketinggian, mereka
mempengaruhi pertumbuhan vegetasi di kanopi hutan.
IKAN ARWANA SUPER RED
1. Nama Umum (Lokal) dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Arwana Super Red (SR).
Nama Ilmiah: Scleropages formosus.
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkatan Taksonomi
Nama Taksonomi
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Actinopterygii
Ordo
Osteoglossiformes
Famili
Osteoglossidae
Genus
Scleropages
Spesies
S. Formosus
3 . Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
 Bentuk Tubuh: Memanjang, pipih, dan proporsional.
 Ukuran: Dapat mencapai panjang hingga 90 cm di penangkaran, meskipun di alam liar bisa lebih
panjang.
 Sirip: Sirip punggung dan dubur terletak jauh di belakang tubuh.
 Sisik: Memiliki sisik besar yang tersusun rapi dan berkilau. Sisik inilah yang mengembangkan warna
merah penuh saat dewasa.
 Mulut: Mulutnya besar dan mengarah ke atas (upturned mouth), mencerminkan kebiasaannya berburu
di permukaan air.
 Sungut (Barbel): Terdapat sepasang sungut yang menonjol di ujung bibir bawah, menyerupai sungut
naga.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya
 Habitat Alami: Perairan tawar dengan arus tenang, termasuk sungai, anak sungai, dan danau, yang
kaya akan vegetasi air (seperti hutan rawa gambut).
 Lokasi Asal (Endemik): Hulu Sungai Kapuas dan Danau Sentarum di Provinsi Kalimantan Barat,
Indonesia.
5. Catatan Hasil Pengamatan, Seperti Perilaku, Kondisi Lingkungan, atau Hal Menarik Lainnya
 Perilaku: Bersifat predator dan dikenal sebagai ikan yang sangat teritorial dan agresif terhadap ikan
lain. Mereka aktif berburu di permukaan air.
 Makanan: Karnivora, memangsa serangga, katak, ikan kecil, dan krustasea.
 Lingkungan: Di habitat aslinya, mereka cenderung menghuni perairan hitam (blackwater) yang
memiliki kadar tanin tinggi dari gambut.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
 Peran Ekologis: Arwana Super Red berfungsi sebagai predator alami yang menjaga keseimbangan
rantai makanan di ekosistem sungai dan danau di Kalimantan.
 Manfaat Ekonomi dan Budaya: Nilai terbesarnya saat ini adalah sebagai ikan hias yang sangat mahal
(low-volume high-value). Di Asia, Arwana Super Red dipercaya membawa keberuntungan dan
kemakmuran, sering disebut "Ikan Naga".
 Simbol Konservasi: Statusnya yang terancam punah menjadikannya spesies bendera untuk pelestarian
habitat perairan tawar di Kalimantan Barat.
7. Ciri Khas dari Spesies Tersebut
 Warna Merah Menyala: Ciri khas utama adalah warna merah menyala yang intens pada sisik, penutup
insang, sirip, bibir, dan sungutnya saat ikan mencapai usia dewasa.
 Ikan Purba: Dikenal sebagai "ikan purba" karena bentuknya yang hampir tidak berubah selama jutaan
tahun.
 Induk Jantan Mengerami Telur di Mulut (Mouthbrooder): Proses reproduksi sangat unik; telur yang
dibuahi akan dierami dan dijaga oleh induk jantan di dalam mulutnya hingga benih menetas dan
mampu berenang bebas.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Arwana Super Red adalah varietas warna paling terkenal dan bernilai ekonomi tertinggi dari spesies
Arwana Asia (Scleropages formosus). Ikan ini dikategorikan sebagai ikan purba dan merupakan
karnivora yang hidup di air tawar. Terdapat 4 varietas utama dalam Super Red berdasarkan intensitas
warnanya: Merah Cabai (Chili Red) Merah Darah (Blood Red) Merah Jingga (Orange Red) Merah
Emas (Golden Red)
9. Interaksi yang Teramati
 Interaksi Intraspesifik: Sangat rendah karena sifat teritorial; Arwana seringkali bersikap agresif
terhadap individu sejenis, terutama di ruang terbatas.
 Interaksi Manusia-Satwa: Interaksi utama adalah eksploitasi perdagangan dan upaya konservasi.
Nilainya yang tinggi memicu penangkapan liar, tetapi juga mendorong budidaya dan pelestarian
melalui penangkaran yang legal.
IKAN LELE EKOR MERAH
1. Nama Umum (Lokal) dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Ikan Lele Ekor Merah atau Redtail Catfish (RTC).
Nama Ilmiah: Phractocephalus hemioliopterus.
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Tingkatan Taksonomi
Nama Taksonomi
Kingdom
Animalia
Filum
Chordata
Kelas
Actinopterygii
Ordo
Siluriformes
Famili
Pimelodidae
Genus
Phractocephalus
Spesies
P. Hemioliopterus
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
 Bentuk Tubuh: Memanjang, dengan kepala lebar dan besar, serta tubuh yang agak membulat di bagian
tengah dan memipih di bagian belakang. Tubuhnya tidak bersisik dan licin.
 Ukuran: Dapat tumbuh menjadi ikan raksasa; di alam liar bisa mencapai panjang lebih dari 1,5 meter
dan berat hingga 80 kg.
 Warna Khas: Bagian atas tubuh (punggung) umumnya berwarna hitam pekat atau abu-abu gelap.
Perutnya berwarna putih.
 Ekor (Caudal Fin): Ciri yang paling menonjol adalah sirip ekor yang berwarna merah cerah menyala,
yang memberinya nama "Redtail".
 Kepala: Keras, menulang di bagian atas, dan relatif besar dibandingkan tubuhnya.
 Mulut: Lebar, terletak di ujung moncong.
 Sungut (Barbel): Memiliki tiga pasang sungut yang panjang di sekitar mulutnya, berfungsi sebagai
organ peraba untuk mendeteksi makanan di air keruh.
 Sirip Dada (Pectoral Fin): Dilengkapi dengan duri tajam (patil) yang dapat digunakan sebagai alat
pertahanan.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek
 Habitat Asli: Ikan Lele Ekor Merah adalah penduduk asli perairan tawar di Amerika Selatan.
 Lokasi: Terutama ditemukan di cekungan sungai-sungai besar seperti Sungai Amazon, Orinoco, dan
Essequibo. Negara-negara asalnya meliputi Brasil, Kolombia, Peru, Venezuela, Ekuador, Guyana, dan
Bolivia.
 Kondisi Lingkungan: Mereka menghuni sungai yang mengalir lambat, danau, dan lingkungan air
tawar lainnya yang kaya akan makanan.
5. Catatan Hasil Pengamatan
 Perilaku: Di dalam akuarium, mereka sering terlihat berdiam di dasar atau bersembunyi di tempat
gelap pada siang hari.
 Kondisi Lingkungan (di penangkaran/akuarium): Ikan ini membutuhkan akuarium yang sangat besar
karena ukurannya yang dapat mencapai raksasa. Membutuhkan sistem filtrasi yang kuat karena
menghasilkan banyak limbah. Ikan ini dapat berkomunikasi dengan mengeluarkan suara klik untuk
mengusir bahaya potensial.
 Hal Menarik Lainnya: Dikenal karena pertumbuhannya yang cepat dan kemampuannya bertahan
hidup hingga 15–20 tahun.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
 Manfaat bagi manusia: Ikan Hias Populer, luar habitat aslinya, P. hemioliopterus sangat populer
sebagai ikan hias predator karena penampilannya yang unik dan warna ekornya yang mencolok.
 Peranan ekologis: Predator Puncak di ekosistem sungai Amazon, Lele Ekor Merah berperan sebagai
salah satu predator puncak di tingkat trofiknya, membantu mengendalikan populasi ikan yang lebih
kecil dan menjaga keseimbangan ekosistem.
7. Ciri Khas dari Spesies Tersebut
 Ekor Merah Menyala: Ciri khas utama dan yang paling mudah dikenali adalah warna merah cerah
pada sirip ekornya yang kontras dengan tubuhnya yang gelap.
 Kepala Besar: Proporsi kepala yang besar dan lebar memberikan penampilan yang unik di antara
spesies lele lainnya.
 Sungut Mencolok: Memiliki dua sungut panjang di rahang atas dan dua pasang sungut di rahang
bawah.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Ikan Lele Air Tawar (Catfish), merupakan spesies ikan lele dari famili Pimelodidae, dikenal sebagai
predator besar, kuat, dan eksotis yang berasal dari sungai-sungai utama di Amerika Selatan. Ikan ini
memiliki pertumbuhan yang sangat pesat, mencapai ukuran raksasa, dan memiliki penampilan yang
ikonik dengan paduan warna hitam-putih-merah.
9. Interaksi yang Teramati
 Predasi: RTC adalah predator, yang berarti interaksi utamanya dengan spesies lain yang lebih kecil
adalah predasi. Mereka akan memakan ikan lain yang muat di mulutnya.
 Kompatibilitas: Dalam akuarium besar, mereka hanya cocok digabungkan dengan ikan predator lain
yang berukuran seimbang atau lebih besar (seperti Arwana, Oscar, atau Peacock Bass) untuk
menghindari pemangsaan.
 Komunikasi Suara: Mereka dapat berinteraksi dengan lingkungannya dengan menghasilkan suara klik
sebagai peringatan.
TANAMAN
BUNGA PUKUL EMPAT
1. Nama umum (lokal) dan nama ilmiah
Nama umum (lokal) : Bunga pukul empat
Nama ilmiah : Mirabilis jalapa
2. Klasifikasi taksonomi lengkapnya
Kingdom: Plantae
Divisi: Tracheophyta (atau Magnoliophyta)
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Caryophyllales
Famili: Nyctaginaceae
Marga: Mirabilis
Spesies: Mirabilis jalapa.
3. Ciri-ciri morfologi yamg diamati
Akar: Akar tunggang yang berkembang menjadi umbi sebagai cadangan makanan.
Batang: Batang basah, bulat, tegak, dan berbuku-buku yang menebal.
Daun: Daun tunggal, berbentuk bulat telur, dan tersusun berhadapan.
Bunga: Berbentuk terompet, memiliki beragam warna, dan mekar pada sore hari (sekitar pukul empat).
Biji: Berbentuk bulat, keriput, dan berwarna hitam saat matang.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya
Habitat Alami
- Lokasi asli di Pegunungan Andes, Amerika Selatan (Peru, Meksiko).
- Tumbuh di lembah kering dan lereng gunung sebagai bagian dari ekosistem asli.
- Statusnya adalah tanaman pribumi (endemik).
Persebaran
- Ditemukan di seluruh dunia (kosmopolitan), terutama di daerah beriklim tropis dan subtropis.
- Tumbuh di berbagai lokasi seperti taman, pinggir jalan, dan lahan kosong.
- Statusnya adalah tanaman introduksi (dibawa manusia) atau menjadi liar (naturalized).
5. Catatan hasil pengamatan
Perilaku Bunga (Fotonasti)
Mekar Sore Hari: Kuncup bunga mulai terbuka di sore hari, biasanya sekitar pukul 4 sore (karena itu
namanya), dan tetap mekar sepanjang malam.
Menutup Pagi Hari: Bunga akan menutup kembali pada pagi harinya, setelah terkena sinar matahari.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
Peranan Ekologis
Menarik Polinator: Menarik serangga dan ngengat nokturnal sebagai agen penyerbukan.
Sumber Nektar: Menyediakan makanan bagi serangga.
Habitat Mikro: Memberi tempat berlindung bagi organisme kecil.
Manfaat
Tanaman Hias: Populer karena bunga aneka warna yang mekar sore hari.
Pengobatan Tradisional: Digunakan untuk anti-inflamasi, penyembuhan luka, dan pencahar alami.
Pewarna Alami: Sumber pigmen alami dari bunganya.
7. Ciri khas dari spesies
Mekar di sore hari: Sesuai namanya, bunga ini mekar menjelang sore sekitar pukul empat sore dan akan
menutup kembali keesokan paginya.
Responsif terhadap cahaya: Mekarnya dipicu oleh perubahan intensitas cahaya dan suhu. Saat malam tiba,
bunga akan membuka dan saat pagi hari yang panas akan menutup kembali.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Bunga pukul empat umumnya adalah spesies tunggal, Mirabilis jalapa, yang terkenal karena mekar pada
sore hari dan memiliki berbagai warna. Tanaman hias tropis ini tumbuh di dataran rendah hingga
pegunungan dan memiliki bunga berbentuk terompet yang mengeluarkan aroma harum, serta berbagai
manfaat dalam pengobatan tradisional dan sebagai pewarna alami.
9. Interaksi yang teramati
Interaksi morfologi yang paling khas adalah gerakan bunga yang membuka di sore hari (sekitar pukul
empat sore) dan menutup di pagi berikutnya.
DAUN KATUK
1. Nama umum (lokal) dan nama ilmiah
Nama umum (lokal) : Daun katuk
Nama ilmiah : Sauropus androgynus
2. Klasifikasi taksonomi lengkap
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta (Spermatophyta)
Kelas: Magnoliopsida (Dicotyledoneae)
Ordo: Euphorbiales
Famili: Euphorbiaceae, Genus: Sauropus
Spesies: Sauropus androgynus.
3. Ciri-ciri morfologi yamg diamati
Bentuk: Helaian daun berbentuk lonjong hingga bundar telur.
Ukuran: Panjang daun sekitar 5–6 cm.
Warna: Hijau gelap atau hijau kecoklatan.
Susunan: Tersusun selang-seling pada satu tangkai, membuatnya tampak seperti daun majemuk.
Permukaan: Licin, dan seringkali memiliki bintik-bintik putih keperakan yang khas di bagian atasnya.
Tangkai: Tangkai daun tunggalnya pendek.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya
Persebaran Geografis:
Asia Tenggara: Tanaman ini sangat umum ditemukan dan dibudidayakan di negara-negara seperti
Indonesia, Malaysia (dikenal sebagai cekur manis), Vietnam (rau ngot), Thailand, Kamboja, Laos, dan
Filipina.
Asia Selatan & Cina: Persebaran alaminya juga meluas hingga ke Cina, India, dan Sri Lanka.
Habitat Alami:
Di habitat aslinya, daun katuk biasanya tumbuh di:
Area hutan terbuka.
Daerah semak belukar.
Tepi-tepi aliran sungai atau di sepanjang pinggiran hutan.
5. Catatan hasil pengamatan
Kondisi Lingkungan Tumbuh
Adaptasi Luas: Daun katuk memiliki toleransi yang baik terhadap berbagai kondisi lingkungan. Ia dapat
tumbuh subur, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.
Toleransi Naungan: Tanaman ini toleran terhadap kondisi teduh atau naungan, sehingga sangat cocok
untuk ditanam di pekarangan rumah atau di bawah pohon lain.
Jenis Tanah: Katuk tidak pilih-pilih soal tanah dan cocok ditanam di hampir semua jenis tanah. Namun,
untuk hasil optimal, ia menyukai tanah yang subur, gembur, banyak mengandung humus, serta memiliki
aerasi dan drainase yang baik.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
Meningkatkan Produksi ASI: Manfaat paling terkenal dari daun katuk adalah kemampuannya merangsang
dan melancarkan produksi Air Susu Ibu (ASI) pada ibu menyusui. Kandungan zat aktifnya membantu
meningkatkan metabolisme glukosa yang diperlukan untuk sintesis laktosa.
Sumber Nutrisi Tinggi: Kandungan kalsium yang tinggi membantu menjaga kesehatan dan kepadatan
tulang, mengurangi risiko osteoporosis. Zat besi di dalamnya juga efektif mencegah anemia.
Sifat Antioksidan dan Anti-inflamasi: Senyawa polifenol dan vitamin C berfungsi sebagai antioksidan
alami yang melawan radikal bebas, membantu mencegah kerusakan sel, peradangan, dan beberapa
kondisi karsinogenik.
Peranan Ekologis
Pakan Ternak: Daun katuk memiliki kandungan protein tinggi (sekitar 6-7%) dan dapat digunakan
sebagai pakan tambahan yang baik untuk kambing, kelinci, atau unggas, asalkan dikeringkan atau
dimasak terlebih dahulu untuk mengurangi alkaloidnya.
Pupuk Organik/Hijau: Tanaman ini berfungsi sebagai sumber bahan organik yang dapat dimanfaatkan
sebagai pupuk hijau untuk menyuburkan tanah dalam sistem pertanian berkelanjutan.
Tanaman Serbaguna: Daun katuk adalah tanaman perdu yang kuat dan sering ditanam sebagai tanaman
pagar hidup di pekarangan rumah atau kebun, berfungsi sebagai pembatas sekaligus sumber pangan yang
mudah diakses.
7. Ciri khas dari spesies
Pertumbuhan: Tumbuh subur di dataran rendah hingga pegunungan dengan ketinggian hingga 1.300
meter di atas permukaan laut.
Adaptasi: Toleran terhadap panas dan kelembaban, namun sensitif terhadap dingin.
Perbanyakan: Dapat diperbanyak dengan biji atau stek batang.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Daun katuk memiliki dua jenis utama, yaitu merah dan hijau. Deskripsi umum daun katuk adalah daun
berbentuk lonjong, berwarna hijau gelap, dengan corak keperakan di bagian tengahnya (khususnya jenis
hijau), dan tersusun selang-seling pada tangkai. Daun katuk kaya akan nutrisi seperti protein, kalsium,
vitamin C, dan antioksidan, serta senyawa fitokimia seperti flavonoid dan saponin.
9. Interaksi yang teramati
Susunan Daun Majemuk Semu: Meskipun secara teknis daun katuk adalah daun tunggal, cara mereka
tersusun pada tangkai membuatnya terlihat seolah-olah daun majemuk genap. Beberapa helai daun
tunggal tumbuh berpasangan di sepanjang tangkai.
BUNGA SOKA
1. Nama umum (lokal) dan nama ilmiah
Nama umum (lokal) : Bunga soka
Nama ilmiah : Ixora javanica
2. Klasifikasi taksonomi lengkap
Kingdom: Plantae
Divisi: Spermatophyta
Subdivisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Rubiales
Famili: Rubiaceae
Genus: Ixora
Spesies: Ixora javanica
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati
Akar: Memiliki sistem perakaran tunggang yang kuat dan berwarna kecoklatan.
Batang: Tumbuh tegak, bulat, berkayu, dan bercabang secara simpodial. Warnanya biasanya gelap.
Bentuk: Tunggal, lonjong atau bulat memanjang.
Ukuran: Panjang sekitar 7-10 cm dan lebar 5-7 cm.
Warna: Hijau tua mengkilap.
Tangkai: Sangat pendek, sering kali tidak terlihat.
Tata letak: Berpasangan.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya
Penyebaran Alami: Tanaman ini merupakan flora asli Indonesia, dengan persebaran utama di Pulau Jawa
dan Sumatera.
Habitat: Di habitat aslinya, Ixora javanica tumbuh subur di iklim hangat dan lembap, serta membutuhkan
tanah yang asam dan memiliki drainase yang baik, serta paparan sinar matahari yang seimbang (dapat
mentolerir sedikit naungan).
5. Catatan hasil pengamatan
Perilaku Interaksi dengan Penyerbuk: Bunga yang berwarna cerah (kuning hingga oranye kekuningan)
menarik perhatian penyerbuk seperti burung, mamalia kecil, dan serangga, yang berkontribusi pada
keanekaragaman hayati ekosistem.
Kondisi Lingkungan (Kebutuhan air dan suhu): Membutuhkan kelembapan sedang dan tumbuh subur
pada suhu di atas 15 derajat Celsius (60 derajat Fahrenheit).
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
Manfaat
Tanaman Obat: Tanaman ini dilaporkan memiliki aktivitas:
Antikanker/Antitumor
Antiinflamasi (anti-peradangan)
Antioksidan
Hepatoprotektif (melindungi hati)
Secara tradisional, spesies Ixora juga digunakan untuk mengobati disentri, diare, dan luka.
Pemurnian Udara: Seperti banyak tanaman hias lainnya, Ixora membantu memurnikan udara dengan
menghilangkan beberapa polutan dan gas beracun, serta membantu meningkatkan kelembapan.
Estetika dan Hortikultura: Dengan bunganya yang berwarna cerah (merah, oranye, kuning), tanaman ini
populer sebagai tanaman hias, pagar pembatas, atau tanaman aksen di taman dan lanskap perkotaan.
Peranan Ekologis
Menarik Polinator: Bunga Ixora javanica menghasilkan nektar yang melimpah, menjadikannya sumber
makanan penting dan sangat menarik bagi berbagai macam serangga, termasuk kupu-kupu, lebah, semut,
dan ngengat. Hal ini mendukung keanekaragaman hayati dan proses penyerbukan tanaman lain di
sekitarnya.
Sumber Makanan Satwa: Buah beri dari tanaman ini juga menarik perhatian burung dan mamalia kecil,
menyediakan sumber makanan tambahan bagi satwa liar lokal.
Pengendalian Erosi: Sistem perakarannya yang kuat membantu menstabilkan tanah di daerah yang rawan
erosi, menjadikannya berguna untuk pengelolaan lingkungan.
Penyedia Habitat: Sebagai perdu atau pohon kecil, tanaman ini menyediakan habitat, tempat berlindung,
dan tempat bersarang bagi berbagai organisme kecil dalam ekosistem.
7. Ciri khas dari spesies
Mekarnya Sepanjang Tahun: Salah satu karakteristik terbaiknya adalah kemampuan untuk berbunga terus
menerus sepanjang tahun, dengan setiap gugusan bunga bertahan selama 6 hingga 8 minggu.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Ixora javanica (soka jawa) adalah tanaman hias berupa semak perdu dari suku Rubiaceae, yang memiliki
bunga berwarna merah-oranye berkelompok dan mekar sepanjang tahun. Tanaman ini tumbuh hingga 1-2
meter, dengan daun lonjong hijau mengkilap yang tersusun berhadapan, dan sering digunakan sebagai
tanaman pagar atau penghias taman.
9.. Interaksi yang teramati
Interaksi dengan Penyebar Biji (Burung dan Mamalia Kecil)
Buah beri: Setelah penyerbukan, tanaman menghasilkan buah beri kecil (drupa) yang menarik, biasanya
berwarna merah saat matang. Buah ini berfungsi sebagai sumber makanan bagi burung dan mamalia
kecil.
KEMUNING
1. Nama umum (lokal) dan nama ilmiah
Nama umum (lokal) : Kemuning
Nama ilmiah : Murraya paniculata.
2. Klasifikasi taksonomi lengkap
Kingdom: Plantae
Divisi: Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)
Kelas: Magnoliopsida (Dikotil)
Subkelas: Rosanae
Ordo: Sapindales
Famili: Rutaceae (Suku jeruk-jerukan)
Genus: Murraya
Spesies: Murraya paniculata (L.) Jack
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati
Batang : Perdu berkayu dengan banyak cabang dan ranting; kulit berwarna abu-abu keputihan.
Daun: Majemuk, bersirip genap; anak daun berbentuk bulat telur, halus, mengkilap, dan beraroma khas
jeruk saat diremas.
Bunga : Majemuk, tersusun dalam tandan di ketiak daun; berwarna putih bersih, berbentuk seperti
terompet kecil, dan sangat harum.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya
Persebaran Geografis
Asia Selatan dan Tenggara: Pakistan, India, Sri Lanka, Cina selatan, Taiwan, Filipina, Malaysia, dan
Indonesia.
Australasia: Papua Nugini, Kaledonia Baru, dan Australia bagian utara (Kimberley di Australia Barat,
Northern Territory, dan Queensland).
Habitat alami
Lingkungan Hutan: Sering ditemukan sebagai perdu di lapisan bawah hutan (understorey shrub) atau di
pinggiran hutan, termasuk di belakang pantai.
5. Catatan hasil pengamatan
Perilaku : Bunganya yang sangat harum, sering kali mekar di malam hari, menyerupai aroma melati atau
jeruk (orange jasmine).
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
Manfaat/Fungsi: Sebagai sumber makanan dan habitat bagi satwa liar, serta penyerap polutan udara alami.
Peranan Ekologis: Menarik penyerbuk (lebah/kupu-kupu) dan membantu penyebaran biji melalui burung,
yang esensial untuk menjaga keseimbangan ekosistem lokal.
7. Ciri khas dari spesies
Aroma Sangat Harum: Ciri khas paling menonjol adalah aroma bunganya yang sangat semerbak,
terutama tercium kuat pada malam hari, menjadikannya populer sebagai tanaman penghasil wewangian
alami di taman.
Kemiripan dengan Melati dan Jeruk: Tanaman ini sering disebut sebagai "melati oranye" (orange jasmine)
karena bunganya yang mirip melati dan daunnya yang mirip dengan daun jeruk, keduanya dari famili
yang sama (Rutaceae).
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Tanaman kemuning (Murraya paniculata) secara umum merupakan perdu atau pohon kecil yang dikenal
karena bunganya yang harum semerbak, mirip melati, dan daunnya yang menyerupai daun jeruk. Di
Indonesia, dikenal beberapa varietas, terutama dibedakan berdasarkan ukuran daunnya.
9. Interaksi yang teramati
Interaksi dengan Penyerbuk (Bunga): Warna Putih dan Aroma Harum: Bunga yang berwarna putih cerah
dan menghasilkan aroma khas yang kuat berfungsi untuk menarik perhatian serangga (seperti lebah dan
kupu-kupu) dan burung untuk membantu proses penyerbukan.
SALAM
1. Nama umum (lokal) dan nama ilmiah
Nama umum (lokal) : Salam
Nama ilmiah : Syzygium polyanthum
2. Klasifikasi taksonomi lengkap
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) atau Spermatophyta (Tumbuhan menghasilkan biji)
Kelas: Magnoliopsida (Berkeping dua / Dicotyledoneae)
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae (Suku jambu-jambuan)
Genus: Syzygium
Spesies: Syzygium polyanthum (Wight.) Walp.
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati
Pohon: Merupakan pohon berukuran sedang hingga besar dengan tinggi mencapai 25-30 meter dan tajuk
yang lebat serta rimbun.
Batang: Batangnya bulat, tegak, dengan kulit yang berwarna cokelat keabu-abuan. Kulit batang muda
cenderung licin, namun menjadi kasar, pecah-pecah, atau bersisik saat pohon menua. Pohon ini memiliki
sistem perakaran tunggang.
Daun: Daunnya merupakan daun tunggal yang tersusun berhadapan. Bentuk daunnya lonjong (eliptis)
hingga lanset dengan ukuran panjang 5-15 cm dan lebar 3-8 cm. Ujung daun meruncing, pangkalnya
runcing, dan tepinya rata. Permukaan atas daun berwarna hijau tua mengkilap, sedangkan permukaan
bawah berwarna hijau muda. Daun salam memiliki aroma khas yang keluar jika diremas.
Bunga: Bunga tersusun dalam karangan bunga majemuk, berukuran kecil, dan umumnya berbau harum.
Buah: Berbentuk buah buni (berry) kecil yang akan berubah warna menjadi ungu kehitaman saat matang
dan biasanya hanya memiliki satu biji di dalamnya.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya
- Hutan primer dan sekunder.
- Area semak belukar.
- Di Jawa, dapat ditemukan hingga ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
- Di daerah lain seperti Sabah (Malaysia) dan sekitarnya, dapat tumbuh hingga 1.200-1.300 mdpl.
- Tumbuh subur di daerah tropis dengan tanah jenis latosol kehitaman, curah hujan tinggi (sekitar 3.000-
4.000 mm/tahun), dan pada ketinggian 0 hingga 1.500 mdpl.
5. Catatan hasil pengamatan
Kondisi Lingkungan Tumbuh
Kebutuhan Sinar Matahari: Pohon salam sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mendapat sinar matahari
penuh.
Ketahanan: Relatif sensitif terhadap embun beku yang berkepanjangan, sehingga di wilayah beriklim
dingin memerlukan perlindungan atau lokasi yang terlindung.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
Manfaat Utama:
Kuliner: Memberikan aroma khas dan esensial dalam masakan Asia Tenggara.
Kesehatan (Tradisional): Membantu mengelola tekanan darah, kolesterol, gula darah, dan masalah
pencernaan berkat sifat anti-inflamasi, antioksidan, dan antibakterinya.
Peranan Ekologis:
Lingkungan: Berfungsi sebagai agen penghijauan penting, menyediakan habitat bagi satwa liar lokal, dan
membantu stabilisasi tanah untuk mencegah erosi.
Alami: Memiliki peran alami dalam pengendalian hama sebagai repelen serangga alami.
7. Ciri khas dari spesies
Aroma: Mengeluarkan aroma khas yang harum saat diremas. Aroma ini memberikan rasa herba yang khas
pada masakan.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Daun salam memiliki beberapa jenis, termasuk daun salam Jawa yang lebih tajam dan daun salam Bali
yang lebih lembut. Deskripsi umum daun salam adalah tumbuhan asli Indonesia (Syzygium polyanthum)
dengan daun berbentuk oval atau jorong, panjang 5-16 cm, berwarna hijau tua, dan beraroma khas yang
digunakan sebagai rempah masakan.
9. Interaksi yang teramati
Interaksi ini tidak teramati secara langsung pada morfologi daun salam itu sendiri, melainkan pada
morfologi tanaman lain di sekitarnya yang terhambat pertumbuhannya.
SINGKONG
1. Nama umum (lokal) dan nama ilmiah
Nama umum (lokal) : Ubi kayu, ketela pohon, atau singkong.
Nama ilmiah : Manihot esculenta
2. Klasifikasi taksonomi lengkap
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Divisi: Spermatophyta (Tumbuhan berbiji)
Subdivisi: Angiospermae (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Dicotyledoneae (berkeping dua) atau Magnoliopsida
Ordo: Euphorbiales atau Malpighiales
Famili: Euphorbiaceae
Genus: Manihot
Spesies: Manihot esculenta atau Manihot utilissima
3. Ciri-ciri morfologi yang diamati
Akar (Umbi): Berbentuk silinder memanjang, berfungsi sebagai tempat cadangan makanan. Kulit luar
tipis kecokelatan, daging umbi putih atau kekuningan.
Batang: Berkayu, bulat, beruas-ruas, dapat tumbuh hingga 4 meter, berwarna hijau atau abu-abu
kecokelatan.
Daun: Berbentuk majemuk menjari dengan 3-9 cuping, bertangkai panjang, dan warnanya bervariasi.
Bunga dan Buah: Jarang diamati karena sebagian besar varietas dibudidayakan untuk umbinya, bukan
bijinya.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya
- Asal Geografis: Tanaman singkong ( Manihot esculenta ) diyakini berasal dari wilayah Amerika Selatan,
khususnya di sekitar Cekungan Amazon, Brasil, Paraguay, dan sebagian pegunungan Andes. Bukti
arkeologis menunjukkan domestikasi singkong telah dimulai sejak 10.000 tahun lalu di sana.
- Penyebaran Global: Bangsa Portugis memperkenalkan singkong ke Afrika pada abad ke-16, dan
kemudian menyebar ke India pada abad ke-17, serta ke Asia Tenggara (termasuk Indonesia dan Malaysia)
pada pertengahan abad ke-19. Saat ini, singkong menjadi tanaman pangan pokok yang penting di banyak
negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin.
5. Catatan hasil pengamatan
Kondisi Lingkungan Ideal
Ketinggian: Tanaman ini toleran terhadap berbagai ketinggian, dapat ditemukan mulai dari dataran rendah
(5 meter di atas permukaan laut) hingga ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut.
Iklim: Membutuhkan iklim tropis atau subtropis dengan curah hujan yang cukup.
Tanah: Tumbuh baik pada tanah yang subur dan memiliki drainase yang baik.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
Manfaat Singkong (Kegunaan Praktis)
- Mengurangi erosi tanah.
- Menghasilkan bioetanol (sumber energi alternatif).
- Sumber pakan ternak atau kompos (pemanfaatan limbah kulit).
Peran Ekologis Singkong (Fungsi Alami)
- Tanaman penutup lahan marjinal.
- Agen ketahanan terhadap kekeringan.
- Menyediakan biomassa ke dalam ekosistem.
7. Ciri khas dari spesies
Ketahanan Ekstrem: Singkong adalah tanaman "ajaib" yang sangat adaptif dan tangguh. Tanaman ini
tahan terhadap kekeringan parah dan dapat tumbuh produktif di tanah yang miskin nutrisi atau ber-pH
rendah (asam).
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Singkong (\(Manihot\;esculenta\)) memiliki beberapa jenis utama seperti singkong manis dan pahit,
dengan deskripsi umum sebagai tanaman perdu tahunan berakar umbi yang dapat tumbuh hingga 4 meter.
Tanaman ini memiliki daun menjari, batang kokoh, dan umbi berdaging yang kaya akan karbohidrat.
Jenis manis dapat dikonsumsi langsung setelah diolah, sementara jenis pahit lebih umum digunakan untuk
industri karena kandungan racun glukosida sianida yang lebih tinggi.
9. Interaksi yang teramati
Interaksi Abiotik (Lingkungan Fisik/Kimia):
Kekurangan Nutrisi: Daun singkong dapat menunjukkan perubahan warna sebagai respons terhadap
kekurangan unsur hara tertentu.
Daun menguning dapat terjadi akibat kekurangan nitrogen, kalium, atau magnesium, yang penting untuk
produksi klorofil.
JAMBU AIR
1. Nama umum (lokal) dan nama ilmiah
Nama umum (lokal) : Jambu air
Nama ilmiah : Syzygium aqueum
2. Klasifikasi taksonomi lengkapnya
Kingdom: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida Subkelas: Rosidae
Ordo: Myrtales
Famili: Myrtaceae
Genus: Syzygium
Spesies: Syzygium aqueum.
3. Ciri-ciri morfologi yamg diamati
Akar: Memiliki sistem perakaran tunggang yang bercabang banyak.
Batang: Umumnya pendek, bengkok, dan memiliki kulit kayu bersisik berwarna cokelat.
Daun: Daun tunggal berbentuk lonjong atau tombak, berwarna hijau tua saat matang, dengan tepi daun
rata.
Bunga: Memiliki banyak benang sari yang khas, muncul di ketiak daun atau ujung cabang.
Buah: Berbentuk seperti lonceng atau gasing, berwarna merah, merah muda, atau putih saat matang,
dengan daging buah yang renyah dan berair.
4. Habitat atau lokasi ditemukannya
Asal: Asia Tenggara (tanaman asli).
Persebaran Utama: Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan), Malaysia, Filipina, Thailand, Myanmar, dan
Indo-Cina.
Persebaran Lainnya: Asia Selatan (Sri Lanka, India), dan Oseania (Papua Nugini).
Status di Indonesia: Sangat umum dibudidayakan di pekarangan dan kebun di seluruh nusantara.
5. Catatan hasil pengamatan
Kondisi lingkungan:
pH Tanah: Derajat keasaman tanah (pH) yang ideal untuk pertumbuhan adalah antara 5,5 hingga 7,5.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
Peran Ekologis Konservasi Tanah: Mengikat partikel tanah dengan akarnya untuk mencegah erosi.
Tata Air: Meningkatkan daya serap air tanah dan mengurangi risiko banjir.
Habitat Satwa: Menyediakan tempat berlindung dan bersarang bagi berbagai fauna lokal (burung,
serangga).
Manfaat:
Sumber Pangan: Menghasilkan buah yang kaya air, segar, dan bergizi untuk dikonsumsi manusia. Nilai
Ekonomi: Menjadi komoditas pertanian yang memberikan penghasilan bagi petani.
Peneduh: Berfungsi sebagai pohon peneduh di area perumahan atau perkebunan.
Pengobatan Tradisional: Bagian tanaman (daun, kulit kayu, akar) kadang digunakan dalam pengobatan
herbal tradisional.
7. Ciri khas dari spesies
Variasi warna: Buahnya hadir dalam berbagai warna yang menarik seperti merah cerah, putih, kuning,
hingga merah muda, tergantung varietasnya.
Bentuk buah yang khas: Bentuk lonceng atau gasing yang unik merupakan salah satu ciri khas jambu air.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Jambu air memiliki berbagai jenis seperti Citra, Delima, Madu Super Green, Bol, King Rose, dan Irung
Petruk, dengan deskripsi umum buahnya yang beragam, umumnya berbentuk lonceng, renyah, berair,
serta memiliki rasa manis dan segar. Deskripsi umumnya, termasuk klasifikasi, adalah tanaman tropis
dengan batang berkayu, daun berbentuk jorong, dan bunga majemuk.
9. Interaksi yang teramati
Interaksi dengan Organisme Lain (Biotik)
Serangan Hama (Ulat): Daun jambu air yang terserang hama ulat pengorok daun menunjukkan perubahan
morfologi yang signifikan, seperti adanya lubang-lubang, tepi daun tidak rata, dan permukaan helai daun
berbintil-bintil. Secara anatomi, jaringan daun (epidermis, palisade, spons) mengalami kerusakan dan
membentuk rongga.
BUNGA ZINNIA
1. Nama Umum dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Bunga Zinnia.
Nama Ilmiah (Spesies): Zinnia elegans Jacq.
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Kingdom: Plantae
Divisi: Tracheophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Asterales
Famili: Asteraceae
Genus: Zinnia
Spesies: Zinnia Elegans Jacq
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
Habitus: Tumbuhan herba tahunan (berumur pendek), tegak, tinggi bervariasi dari 15 cm hingga 1 meter,
tergantung kultivar.
Batang: Batang keras, beruas-ruas, dan biasanya ditutupi oleh bulu-bulu halus (berambut kasar).
Daun: Daun tunggal, tersusun berhadapan (bersilangan) atau berputar tiga.
Bunga: Merupakan bunga majemuk berbentuk bongkol (capitulum), khas famili Asteraceae. Bunga
dikelilingi oleh banyak daun pelindung yang berlekatan.
Buah dan Biji: Buahnya berbentuk achenium (biji kering keras) yang mengandung satu biji.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek
Habitat Alami: Berasal dari padang rumput kering dan daerah semak belukar di Meksiko dan Amerika
Tengah.
Lokasi Ditemukan (Budidaya): Saat ini tersebar luas di seluruh dunia di daerah tropis hingga subtropis
sebagai tanaman hias taman dan bunga potong komersial. Di Indonesia, sangat umum ditanam di
pekarangan dan ladang bunga. Tumbuh baik di daerah yang mendapatkan sinar matahari penuh.
5. Catatan Hasil Pengamatan
Perilaku: Zinnia adalah bunga yang sangat produktif. Jika bunga yang layu segera dipangkas
(deadheaded), tanaman akan merangsang pertumbuhan bunga baru secara terus-menerus hingga akhir
musim.
Kondisi Lingkungan: Tanaman ini sangat menyukai sinar matahari penuh dan tahan terhadap kekeringan.
Namun, sensitif terhadap jamur dan penyakit jika ditanam terlalu rapat (misalnya penyakit embun tepung
atau powdery mildew).
Hal Menarik Lainnya: Zinnia sangat menarik bagi serangga. Kebun yang ditanami zinnia akan selalu
ramai dikunjungi oleh kupu-kupu dan lebah.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
Manfaat (Bagi Manusia): Tanaman Hias/Bunga Potong, Fungsi utama adalah sebagai tanaman hias yang
mempercantik taman dan sebagai bunga potong karena daya tahannya yang baik dalam vas. Tarik Wisata,
Ladang Zinnia sering dijadikan objek agrowisata karena tampilannya yang berwarna-warni dan indah.
Peranan Ekologis
Sumber Nektar dan Serbuk Sari: Bunga Zinnia adalah sumber nektar yang melimpah bagi kupu-kupu,
lebah, dan serangga penyerbuk lainnya, menjadikannya tanaman yang mendukung ekosistem penyerbuk.
Pakan Ulat: Daunnya dapat menjadi sumber makanan bagi ulat dari beberapa spesies ngengat dan kupu-
kupu.
7. Ciri Khas dari Spesies Tersebut
Ciri khas utama dari Zinnia elegans adalah:
Variasi Warna yang Spektakuler: Bunga Zinnia hadir dalam hampir semua warna pelangi (kecuali biru),
seringkali dengan warna-warna yang sangat jenuh dan mencolok.
Bunga Bongkol yang Rapat: Struktur bunganya yang padat dan seringkali berlapis-lapis (ganda)
memberikan kesan bunga yang tebal seperti kertas (sehingga dijuluki Bunga Kertas).
Atraktor Kupu-kupu: Tanaman ini dikenal secara universal sebagai salah satu tanaman terbaik untuk
menarik kupu-kupu ke taman.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Tumbuhan herba tegak dari famili Asteraceae, yang terkenal karena kepalanya yang besar, berwarna
cerah, dan bentuknya yang bervariasi (tunggal, semi-ganda, atau ganda penuh). Dibudidayakan luas
sebagai bunga potong dan bunga taman di daerah beriklim hangat.
9. Interaksi yang Teramati
Interaksi dengan Kupu-kupu (Mutualisme): Interaksi yang paling menonjol adalah dengan kupu-kupu
yang mengunjungi bunga untuk mengambil nektar. Kupu-kupu mendapatkan makanan, dan tanaman
terbantu dalam penyerbukan silang.
Interaksi dengan Jamur (Parasitisme): Zinnia, terutama di daerah lembap atau saat ditanam terlalu padat,
sering berinteraksi negatif dengan jamur penyebab penyakit embun tepung (powdery mildew).
Interaksi dengan Manusia (Budidaya Selektif): Manusia terus melakukan persilangan dan seleksi untuk
menghasilkan kultivar baru dengan warna, ukuran, dan ketahanan penyakit yang lebih baik.
CERI NANKING
1. Nama Umum dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Ceri Nanking.
Nama Ilmiah (Spesies): Prunus tomentosa Thunb.
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Kingdom: Plantae
Divisi: Tracheophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Rosales
Famili: Rosaceae
Genus: Prunus
Spesies: Prunus tomentosa thunb
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
Habitus: Perdu besar (semak) hingga pohon kecil, tingginya mencapai 1,8 hingga 3 meter.
Batang dan Ranting: Batang utama pendek. Ranting-rantingnya cenderung lebat, ramping, dan ditutupi
oleh bulu-bulu halus.
Daun: Daun tunggal, tersusun berselang-seling, bentuk lonjong, berubah warna kuning saat musim gugur.
Bunga: Bunga kecil, muncul sangat awal di musim semi sebelum daun muncul (atau bersamaan).
Kuncupnya berwarna merah muda tua, lalu mekar menjadi putih cerah atau putih kekuningan. Bunga
sangat banyak dan tersusun rapat pada ranting.
Buah: Buah berjenis drupa (buah batu) berbentuk ceri. Warnanya merah cerah (kadang putih pada varietas
tertentu) ketika matang. Rasanya Manis dengan sedikit rasa asam.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek
Habitat Alami: Tumbuhan asli Tiongkok, Jepang, dan Himalaya.
Lokasi Ditemukan (Budidaya): Dibudidayakan di negara-negara dengan iklim sedang (seperti Amerika
Utara, Eropa, dan Asia Timur) karena toleransinya yang baik terhadap musim dingin. Sangat jarang
ditemukan di dataran rendah tropis Indonesia, namun mungkin ada di kebun koleksi atau dataran tinggi
yang dingin.
5. Catatan Hasil Pengamatan
Perilaku: Tanaman ini berumur relatif pendek (sekitar 15-20 tahun). Untuk memaksimalkan hasil buah,
disarankan untuk pemangkasan tahunan pada ranting yang lebih tua (usia sekitar 6 tahun ke atas) untuk
merangsang pertumbuhan tunas baru yang lebih produktif.
Kondisi Lingkungan: Tahan terhadap musim dingin yang ekstrem (winter hardy) (Zona USDA 2) dan
toleran terhadap kekeringan setelah mapan. Membutuhkan sinar matahari penuh untuk pembungaan dan
pembuahan optimal.
Hal Menarik Lainnya: Ceri Nanking membutuhkan penyerbukan silang (perlu setidaknya dua varietas
berbeda) untuk menghasilkan buah yang melimpah.
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
Manfaat (Bagi Manusia)
Pangan (Buah): Buah ceri dapat dimakan segar atau diolah menjadi selai, jeli, pai, atau jus.
Tanaman Hias: Ditanam untuk nilai estetiknya di awal musim semi karena bunganya yang melimpah dan
penampilannya yang padat.
Pagar Hidup/Peneduh Angin: Karena tumbuh sebagai semak yang padat, sering digunakan sebagai pagar
hidup alami atau penahan angin (windbreak) di ladang pertanian.
Peranan Ekologis
Sumber Pakan Satwa: Buahnya adalah makanan favorit bagi banyak burung (songbirds) dan hewan kecil
lainnya, yang pada gilirannya membantu penyebaran biji.
Penarik Penyerbuk: Bunga yang mekar awal musim semi merupakan sumber nektar dan serbuk sari yang
penting bagi lebah madu yang baru muncul dari dormansi.
Habitat Satwa: Rantingnya yang padat menyediakan tempat berlindung atau bersarang bagi beberapa
jenis burung.
7. Ciri Khas dari Spesies Tersebut
Buah dan Ranting Berambut Halus: Batang, tangkai daun, dan bagian bawah daun ditutupi oleh rambut
halus (tomentose).
Buah Tampak 'Duduk': Buah tumbuh sangat dekat dengan ranting karena tangkai buah yang pendek,
memberikan tampilan buah yang "duduk" bergerombol padat di sepanjang ranting.
Tumbuh sebagai Semak/Perdu: Berbeda dengan banyak ceri sejati lainnya yang berupa pohon besar, Ceri
Nanking adalah semak (bush cherry).
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Semak berbuah yang relatif kecil, berasal dari Asia Timur. Dikenal karena menghasilkan banyak bunga
putih beraroma di awal musim semi dan buah ceri merah kecil yang padat dan berbulu, yang matang di
awal musim panas.
9. Interaksi yang Teramati
Interaksi dengan Burung (Kompetisi/Dispersal): Sering terjadi kompetisi antara manusia dan burung
untuk mendapatkan buah ceri Nanking. Burung memakan buah, membantu penyebaran biji, tetapi
mengurangi hasil panen manusia.
Interaksi dengan Lebah (Mutualisme): Lebah madu dan lebah liar berinteraksi dengan bunga di awal
musim semi, mendapatkan nektar sebagai sumber energi vital, sementara tanaman mendapatkan
penyerbukan silang.
RAMBUTAN
1. Nama Umum dan Nama Ilmiah
Nama Umum (Lokal): Rambutan.
Nama Ilmiah (Spesies): Nephelium lappaceum L.
2. Klasifikasi Taksonomi Lengkap
Kingdom: Plantae
Divisi: Tracheophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Sapindales
Famili: Sapindaceae
Genus: Nephelium
Spesies: Nephelium lappaceum L
3. Ciri-ciri Morfologi yang Diamati
Habitus: Pohon berukuran sedang, sering bercabang rendah, tinggi dapat mencapai 10 hingga 25 meter.
Batang: Batang berkayu, tegak, permukaan kasar dan berwarna cokelat keabu-abuan.
Daun: Daun majemuk menyirip genap. Setiap tangkai terdiri dari 2 hingga 4 pasang anak daun.
Bunga: Bunga tersusun dalam malai (karangan bunga) besar di ujung ranting atau ketiak daun. Bunga
berukuran kecil, berwarna hijau kekuningan atau putih.
Ciri Khas Seksual: Pohon rambutan bersifat poligamo-dioecious, artinya ada pohon jantan (hanya bunga
jantan), pohon betina (hanya bunga betina), dan pohon hermafrodit (bunga sempurna, jantan dan betina).
Untuk panen buah yang baik, diperlukan pohon betina atau hermafrodit.
Buah: Buah berjenis drupa, bentuknya Bulat hingga lonjong, Kulitnya angat khas, ditutupi oleh rambut-
rambut lunak dan lentur (spinikel) yang berwarna merah, kuning, atau merah-kuning, sesuai dengan
namanya 'rambut', Daging Buahnya Putih bening, tebal, berair, dan rasanya manis-asam.
Biji: Berbentuk elips, tertutup oleh daging buah.
4. Habitat atau Lokasi Ditemukannya Objek
Habitat Alami: Diperkirakan berasal dari Asia Tenggara (khususnya wilayah Indonesia dan Malaysia).
Lokasi Ditemukan (Budidaya): Merupakan pohon buah pekarangan yang sangat umum di seluruh daerah
tropis dan subtropis di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Tumbuh subur di daerah dataran rendah dengan
curah hujan tinggi, umumnya pada ketinggian 0 hingga 500 meter di atas permukaan laut.
5. Catatan Hasil Pengamatan
Perilaku: Pohon rambutan bersifat musiman, berbuah lebat setahun sekali (biasanya sekitar musim
hujan/awal tahun). Buah biasanya tumbuh berkelompok besar.
Kondisi Lingkungan: Membutuhkan kelembapan tinggi dan drainase yang baik. Pohon ini sensitif
terhadap kekeringan yang berkepanjangan.
Hal Menarik Lainnya: Dikenal banyak varietas unggul hasil pemuliaan, seperti 'Rapiah', 'Binjai', dan
'Lebak Bulus', yang dibedakan berdasarkan ketebalan daging buah, kadar manis, dan kemudahan
memisahkan daging buah dari biji (ngelotok).
6. Manfaat dan Peranan Ekologis
Manfaat (Bagi Manusia)
Pangan (Buah): Sumber vitamin C, serat, dan karbohidrat yang dikonsumsi segar.
Obat Tradisional: Kulit buah, biji, dan daunnya digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati
demam, diare, dan masalah kulit. Biji rambutan kaya akan lemak dan dapat diolah.
Kayu: Kayunya yang keras dapat digunakan untuk konstruksi ringan dan perkakas.
Peneduh: Pohon yang rimbun berfungsi sebagai pohon peneduh yang efektif di pekarangan.
Peranan Ekologis
Sumber Nektar dan Serbuk Sari: Bunga rambutan yang kecil dan banyak menarik lebah madu dalam
jumlah besar, menjadikannya sumber nektar penting bagi lebah di musim berbunga.
Penyebaran Biji: Buahnya dimakan oleh kelelawar buah dan beberapa jenis burung yang kemudian
membantu penyebaran biji ke area lain.
Habitat Satwa: Tajuknya yang padat menjadi tempat bersarang bagi burung dan tempat berlindung bagi
serangga dan reptil kecil.
7. Ciri Khas dari Spesies Tersebut
Buah Berambut: Kulit buah yang ditutupi oleh tonjolan lunak dan lentur (rambut) yang mencolok.
Perbedaan Seksual Pohon (Poligamo-dioecious): Adanya pohon jantan yang hanya berbunga (tidak
berbuah) dan pohon betina/hermafrodit yang berbuah, yang merupakan aspek penting dalam
budidayanya.
Daging Buah Aril: Daging buah yang bening, kaya air, dan mudah dikupas dari bijinya pada varietas
unggul.
8. Jenis dan Deskripsi Umum
Pohon berukuran sedang dari famili Sapindaceae, yang merupakan buah asli Asia Tenggara. Sangat
dikenal karena buahnya yang unik, berbentuk bulat dan ditutupi oleh "rambut" berwarna cerah, dengan
daging buah manis dan berair.
9. Interaksi yang Teramati
Interaksi dengan Lebah (Mutualisme): Interaksi yang sangat krusial adalah dengan lebah, yang
merupakan penyerbuk utama bunga rambutan (terutama pada pohon betina/hermafrodit), menghasilkan
madu dan memastikan pembuahan.
Interaksi dengan Kelelawar (Penyebaran Biji): Kelelawar buah sering memakan buah rambutan di malam
hari, meninggalkan bijinya jauh dari pohon induk.
Interaksi dengan Manusia (Seleksi dan Pengendalian Hama): Manusia melakukan pemilihan varietas dan
pemangkasan serta sering menggunakan pestisida untuk mengatasi hama buah (seperti lalat buah dan
jamur) yang dapat merusak kualitas buah.